Wirawan WhatsApp

Rumah warisan tidak bisa dibagi rata, lalu bagaimana?

Hampir semua keluarga menghadapi pertanyaan ini cepat atau lambat. Hartanya ada, tapi bentuknya satu rumah. Ahli warisnya beberapa orang. Lalu bagaimana membaginya?

Online Senin–Sabtu · obrolan pertama gratis

Kenapa rumah sering jadi masalah

Sebagian besar kekayaan keluarga di Indonesia tersimpan dalam bentuk rumah dan tanah. Saat pewaris wafat, harta itu harus dibagi sesuai bagian masing-masing ahli waris. Uang bisa dibagi sampai rupiah terakhir, tapi rumah tidak bisa dipotong menjadi beberapa bagian.

Di sinilah banyak keluarga mulai berselisih. Bukan karena tidak ikhlas, tapi karena tidak ada jalan keluar yang terasa adil bagi semua orang.

Yang diselesaikan lebih dulu

Sebelum harta dibagi, ada kewajiban yang didahulukan: biaya pengurusan jenazah, pelunasan utang almarhum, lalu wasiat yang nilainya paling banyak sepertiga harta dan tidak boleh untuk ahli waris. Sisanya baru dibagi sesuai faraid.

Contoh sederhana

Seorang ayah wafat. Ia meninggalkan seorang istri, dua anak laki-laki, dan satu anak perempuan. Kedua orang tua almarhum sudah lebih dulu wafat. Hartanya hanya sebuah rumah senilai Rp1,2 miliar, tanpa utang dan tanpa wasiat.

Karena ada anak, istri mendapat seperdelapan. Sisanya dibagi kepada anak-anak, dengan bagian anak laki-laki dua kali bagian anak perempuan.

Ahli warisBagianNilai
Istri1/8Rp150 juta
Anak laki-laki pertama2/5 dari sisaRp420 juta
Anak laki-laki kedua2/5 dari sisaRp420 juta
Anak perempuan1/5 dari sisaRp210 juta
JumlahRp1,2 miliar
Pembagian rumah Rp1,2 miliar
  • IstriRp150 jt
  • Anak laki-laki 1Rp420 jt
  • Anak laki-laki 2Rp420 jt
  • Anak perempuanRp210 jt

Contoh ini sengaja disederhanakan. Susunan ahli waris yang berbeda menghasilkan pembagian yang berbeda. Untuk kasus nyata, mintalah bantuan ahli faraid, dan untuk penetapan ahli waris secara hukum bisa melalui Pengadilan Agama.

Di atas kertas semuanya jelas. Masalahnya, yang dibagi adalah satu rumah.

Empat pilihan yang biasanya dihadapi

1. Rumah dijual, hasilnya dibagi

Cara paling sederhana dan paling sering terjadi. Kelemahannya, penjualan sering dilakukan terburu-buru — karena ada ahli waris yang butuh uang, atau karena ingin cepat selesai — sehingga harganya di bawah pasar. Rumah tempat keluarga dibesarkan pun ikut hilang.

2. Salah satu ahli waris membeli bagian yang lain

Misalnya anak laki-laki pertama ingin tetap tinggal di rumah itu. Ia perlu membayar bagian ibu dan kedua saudaranya: Rp150 juta + Rp420 juta + Rp210 juta, total Rp780 juta, dalam bentuk tunai. Tidak banyak orang memegang uang sebesar itu pada saat yang tidak terduga.

3. Dimiliki bersama

Boleh, selama semua pihak rela. Tapi kepemilikan bersama yang berlangsung bertahun-tahun sering menimbulkan pertanyaan baru: siapa yang menempati, siapa yang membayar pajak dan perawatan, bagaimana kalau ada yang ingin menjual bagiannya. Kalau memilih jalan ini, buat kesepakatan tertulis sejak awal.

4. Disiapkan sejak pewaris masih hidup

Pilihan ini yang paling jarang dipikirkan, padahal paling memberi ruang. Beberapa cara yang bisa ditempuh:

  • Merapikan dokumen. Sertifikat atas nama siapa, di mana disimpan, dan apa saja utang yang masih berjalan.
  • Wasiat tertulis, dalam batas sepertiga dan bukan untuk ahli waris, dibuat dengan bantuan notaris.
  • Menyiapkan dana tunai. Kalau saat pewaris wafat tersedia dana tunai yang cukup, pilihan nomor dua menjadi mungkin: ahli waris yang ingin mempertahankan rumah bisa membeli bagian saudaranya tanpa ada yang dirugikan.

Dana tunai inilah yang biasanya disiapkan lewat perlindungan jiwa syariah. Nilainya bisa dihitung dari harga aset yang ingin dipertahankan dan utang yang perlu dilunasi.

Catatan soal hukum. Status manfaat asuransi dalam pembagian warisan — apakah termasuk harta peninggalan (tirkah) atau menjadi hak penerima manfaat yang ditunjuk — dibahas para ulama dengan pendapat yang tidak selalu sama. Saya tidak memutuskan hukumnya. Silakan diskusikan dengan ustadz atau ahli faraid yang Anda percaya; susunan penerima manfaat di polis bisa disesuaikan dengan pendapat yang Anda pegang.

Yang bisa Anda lakukan minggu ini

  1. Tulis daftar aset keluarga beserta perkiraan nilainya.
  2. Cek sertifikat dan dokumen penting: atas nama siapa, dan di mana disimpan.
  3. Catat utang yang masih berjalan.
  4. Bicarakan dengan pasangan: aset mana yang ingin dipertahankan untuk anak-anak?

Kalau setelah itu Anda ingin tahu berapa dana tunai yang sebenarnya dibutuhkan, saya bisa bantu menghitungnya. Penjelasan layanannya ada di halaman persiapan warisan.

Ingin tahu mana yang paling mendesak untuk keluarga Anda?Cek lima kebutuhan sekaligus, sekitar 2 menit.

Cek kebutuhan →

Ingin tahu angka untuk keluarga Anda?

Kirim gambaran aset dan susunan keluarga Anda. Saya bantu menghitung berapa dana tunai yang dibutuhkan.

Biasanya saya balas di bawah 1 jam, Senin–Sabtu. Obrolan pertama gratis dan tidak ada kewajiban apa pun.

Tanya via WhatsApp